Lingga, Zonamu.com – Setelah berbulan-bulan kemarau membakar tanah dan mengeringkan sumber air, langit di Dabo Singkep, Kabupaten Lingga, akhirnya pecah oleh hujan.
Sejak malam hingga siang hari, butiran air turun cukup deras, membasahi bumi yang lama merindukan kesejukan. Aroma tanah basah menyeruak, seolah menjadi pertanda harapan baru bagi warga.
Di sejumlah titik wilayah Kabupaten Lingga, musim kemarau panjang sebelumnya telah membuat sumur-sumur mengering dan debit air menyusut drastis. Warga pun kesulitan mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.
Turunnya hujan kali ini terasa bukan sekadar fenomena alam, melainkan jawaban atas doa-doa yang dipanjatkan. Warga menyambutnya dengan syukur dan sigap memanfaatkan setiap tetes air yang jatuh dari langit.
Doni, salah satu warga Dabo, mengaku lega saat hujan turun tanpa henti. Selama kemarau, ia mengandalkan sumur pribadi untuk kebutuhan mandi dan mencuci. Namun, sumur itu pun ikut mengering akibat panas berkepanjangan.
“Alhamdulillah akhirnya hujan turun. Saya juga memanfaatkan momen ini untuk menampung air hujan menggunakan wadah yang ada,” ujarnya, Selasa 17 Februari 2026.
Sejak pagi, Doni terlihat menyiapkan berbagai wadah besar untuk menampung air hujan. Baginya, air yang terkumpul sangat berarti, terutama menjelang bulan suci ketika kebutuhan rumah tangga meningkat.
“Apalagi bulan Ramadhan sudah beberapa hari lagi. Setidaknya air hujan ini dapat digunakan untuk kebutuhan sehari-hari,” ujarnya.
Ia menjelaskan, untuk kebutuhan memasak biasanya mengambil air dari perigi umum. Namun karena digunakan banyak warga, ia tidak bisa mengambil dalam jumlah besar.
Sementara untuk mandi dan mencuci, biasanya mengandalkan sumur pribadi yang kini kering.
“Makanya saya menampung air hujan ini untuk kebutuhan mencuci dan lainnya. Kalau untuk masak saya ambil di perigi umum, tidak bisa ambil banyak karena digunakan untuk orang ramai,” tuturnya.
Rasa syukur juga dirasakan Madi, petani sayuran yang menggantungkan hidup pada curah hujan. Selama kemarau, banyak tanaman yang layu bahkan mati karena kekurangan air.
“Saya sangat berharap agar musim kemarau ini segera berakhir. Jika terus berlanjut banyak tanaman yang kering dan mati,” ujar Madi.
Hujan yang turun dari malam hingga siang hari ini juga membawa harapan meredanya ancaman kebakaran hutan dan lahan yang beberapa waktu terakhir kerap terjadi. Tanah yang kembali basah diharapkan mampu menekan risiko kebakaran yang merugikan banyak pihak.
“Apalagi saya bertani menggunakan curah hujan sebagai bantuan untuk sumber air bagi tanaman,” pungkasnya.
Bagi Madi, waktu sangat berharga. Bulan puasa sudah di depan mata, dan ia seharusnya mulai menanam sayuran baru agar dapat dipanen menjelang Idul Fitri.
“Dengan turunnya hujan hari ini semoga menjadi awal musim kemarau berakhir. Mengingat puasa sudah di depan mata,” katanya penuh harap.
Di bawah langit yang perlahan kembali cerah, warga Dabo Singkep menatap hari dengan optimisme baru. Hujan kali ini bukan sekadar air yang turun dari awan, melainkan tanda kehidupan yang kembali mengalir di tanah Lingga.
About The Author
Penulis : Wandi















