Karimun, Zonamu.com – Di antara riuk gelombang Selat Malaka dan lalu lalang aktivitas ekonomi di Kabupaten Karimun, sebuah lembaga keuangan daerah pernah berada di persimpangan jalan. PT Bank Perekonomian Rakyat (BPR) Tuah Karimun (Perseroda), Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang digadang-gadang menjadi penyokong modal usaha rakyat kecil, sempat diuji oleh berbagai tantangan tata kelola dan tumpukan kredit bermasalah.
Di tengah situasi penuh tantangan itulah, sosok Siska Naritasari, S.E., melangkah masuk. Dari seorang praktisi yang bertugas menegakkan aturan di balik layar, kini ia berdiri di kemudi utama, membawa BPR Tuah Karimun berlayar keluar dari badai menuju masa keemasan baru.
Perjalanan Siska di BPR Tuah Karimun tidak dimulai dengan karpet merah. Pada pertengahan 2025, ia mengikuti proses seleksi terbuka yang ketat untuk mengisi jajaran direksi BUMD Karimun. Lolos dengan rekam jejak yang mumpuni, Siska dipercaya menduduki kursi Direktur Kepatuhan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Di dunia perbankan, posisi Direktur Kepatuhan kerap diibaratkan sebagai “rem” kendaraan. Tugasnya tidak populer, memastikan setiap rupiah yang disalurkan mematuhi regulasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), memagari perusahaan dari risiko hukum, serta berani berkata “tidak” pada praktik-praktik yang menyimpang dari prinsip kehati-hatian (prudential banking).
Selama menjabat Direktur Kepatuhan, Siska mengamati setiap sudut kelemahan sistemis perusahaan. Ia memetakan portofolio pinjaman, mempelajari anatomi kredit macet, dan menyusun standar operasional yang lebih ketat. Pengalaman di balik layar inilah yang membentuk pemahaman mendalam Siska mengenai apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh BPR Tuah Karimun, pembenahan fundamental, bukan hanya polesan di permukaan.
Ketika roda kepemimpinan berputar dan amanah Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama dijatuhkan ke pundaknya, Siska tidak ragu mengambil alih kemudi. Ia sadar, memimpin perbankan daerah yang sedang berbenah membutuhkan keberanian mengambil keputusan yang tidak populer.
Langkah pertama yang ia ambil adalah melancarkan “operasi penyehatan” terhadap aset perusahaan. Masalah kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) yang mengendap bertahun-tahun langsung disentuh tanpa kompromi. Siska menjalin kerja sama resmi dengan pihak kuasa hukum dan penasihat hukum profesional untuk melakukan penagihan dan penanganan kredit macet secara tegas namun tetap berbasis koridor hukum.
Bersamaan dengan pembenahan aset, Siska mengawal proses krusial perubahan status hukum lembaga. Di bawah pengawasannya, transisi dari Perumda menjadi Perseroda (PT BPR Tuah Karimun) berjalan mulus. Perubahan status ini bukan hanya pergantian papan nama, melainkan transformasi kelembagaan agar BPR lebih adaptif, transparan, dan akuntabel dalam mengarungi iklim bisnis modern.
Ketegasan dan kedisiplinan tata kelola yang ditanamkan Siska mulai membuahkan hasil nyata dalam waktu yang tergolong singkat. Memasuki pertengahan 2026, grafik kinerja keuangan BPR Tuah Karimun menunjukkan kurva pertumbuhan yang memukau.
Pada triwulan kedua 2026, BPR Tuah Karimun berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp271 juta. Angka ini secara mengejutkan melampaui target tahunan perusahaan yang ditetapkan sebesar Rp251 juta, sebuah capaian yang diraih jauh lebih cepat dari tenggat waktu yang ditargetkan. Lonjakan laba ini tidak main-main, mencatatkan kenaikan hingga 200 persen dibandingkan periode sebelumnya, dengan total nilai aset perusahaan yang menembus angka Rp48 miliar.

Transformasi dramatis ini tidak hanya mendapat apresiasi dari Pemerintah Daerah selaku pemegang saham, tetapi juga menarik perhatian nasional. BPR Tuah Karimun dianugerahi penghargaan tingkat nasional (Prestigious Top Award) sebagai bentuk pengakuan atas keberhasilan pembenahan tata kelola dan lonjakan kinerja BUMD.
Bagi Siska Naritasari, S.E., deretan angka impresif dan trofi penghargaan tersebut bukanlah muara akhir dari pengabdiannya. Dalam berbagai kesempatan, ia menekankan bahwa pembenahan BPR Tuah Karimun adalah proses berkelanjutan untuk menjaga amanah masyarakat Karimun.
“Penghargaan dan capaian laba ini adalah modal kepercayaan. Misi utama kami tetap satu, memastikan BPR Tuah Karimun hadir sebagai benteng ekonomi yang sehat, tepercaya, dan benar-benar memberi dampak nyata bagi UMKM serta masyarakat di daerah ini,” ungkapnya.
Dari seorang penjaga regulasi di ranah kepatuhan hingga menjadi arsitek pemulihan kinerja perusahaan, rekam jejak Siska Naritasari menceritakan satu hal, bahwa dengan integritas, keberanian, dan tata kelola yang benar, lembaga keuangan daerah mampu bangkit dan menjadi kebanggaan masyarakatnya.
About The Author
Penulis : Bustomi














