Ketua Umum AJI: Pers dalam Bahaya, Jurnalis Dicap Londo Ireng hingga Tak Punya Otak

- Penulis

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 11:46 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ketua Umum AJI Nany Afrida saat melaksanakan giat resepsi peringatan HUT ke-32 AJI di Hall Dewan Pers, Jakarta | Foto : Zonamu/Ist

Ketua Umum AJI Nany Afrida saat melaksanakan giat resepsi peringatan HUT ke-32 AJI di Hall Dewan Pers, Jakarta | Foto : Zonamu/Ist

Jakarta, Zonamu.com – Ketua Umum Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Nany Afrida menegaskan kondisi pers Indonesia saat ini berada dalam bahaya.

Pasalnya di tengah stigma yang belakangan disematkan kepada jurnalis mulai dari sebutan londo ireng hingga tidak punya otak.

Pernyataan itu ia sampaikan dalam resepsi peringatan HUT ke-32 AJI di Hall Dewan Pers, Jakarta, Jumat malam, 7 Agustus 2026.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Kondisi pers hari ini sedang dalam kondisi bahaya,” kata Nany.

Ia mengingatkan anggota AJI bahwa organisasi ini lahir dari keberanian untuk menegaskan pers tidak boleh menjadi alat kekuasaan maupun corong pemerintah.

Nany menekankan publik berhak mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi.

“Dalam 32 tahun kemudian kita berada di titik yang sama yang menuntut keberanian,” tegasnya.

Nany menjelaskan, bahaya yang ia maksud bukan berasal dari tekanan ekonomi maupun kesulitan media bertahan akibat perubahan teknologi.

“Tapi karena ruang kebebasan yang semakin sempit,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, saat ini banyak jurnalis mengalami intimidasi, kekerasan, serangan digital, kriminalisasi, dan intervensi terhadap ruang redaksi.

Di tengah pidatonya, Nany secara khusus menyoroti stigma yang belakangan disematkan kepada jurnalis: londo ireng, tidak punya otak, hingga kawanan sirkus.

“Kalau londo ireng dimaksudkan untuk mengatakan jurnalis adalah pengkhianat karena tidak mengikuti keinginan penguasa. Maka saya katakan iya, kita (jurnalis) londo ireng,” tegasnya.

Ia menjelaskan, jurnalis bekerja bukan berdasarkan keinginan penguasa, melainkan berdasarkan fakta, kepentingan publik, dan kode etik.

Soal cap tidak punya otak, Nany merespons stigma itu dengan nada getir sekaligus tegas.

“Kalau jurnalis disebut tidak punya otak, saya ingin mengatakan, mungkin kami memang tidak punya otak. Karena setelah tekanan, ancaman, kekerasan, dan ketidakpastian ekonomi, kami tetap memilih jadi jurnalis,” katanya.

Ia menegaskan, jurnalis tetap memiliki nurani, integritas, dan keberanian meski dicap tidak berotak.

“Dan yang paling penting, kita punya keberanian,” tuturnya.

Soal sebutan kawanan sirkus, Nany menilai hal itu bukan masalah. Ia menjelaskan, jurnalis memang kerap berkumpul, terutama saat ada jurnalis yang diserang atau diintimidasi, karena seorang jurnalis tidak boleh menghadapi kekerasan seorang diri.

“Ketika solidaritas dianggap sebagai kawanan, maka iya, kami ini kawanan,” ujarnya.

Di balik stigma yang beredar, Nany memaparkan data yang menggambarkan wajah asli ancaman terhadap jurnalis. AJI mencatat 85 kasus kekerasan terhadap jurnalis sepanjang 2025, naik dari 73 kasus pada 2024. Hingga Juli 2026, AJI telah mencatat 25 kasus kekerasan terhadap jurnalis.

“Dan itu bukan angka statistik semata,” tegas Nany.

Ia mencontohkan sejumlah kasus konkret. Di Semarang, seorang jurnalis dilarang meliput Menteri Keuangan. Di Aceh, jurnalis mengalami intimidasi berupa perampasan alat kerja. Di Pulau Obi, Maluku Utara, jurnalis mengalami intimidasi saat melakukan peliputan.

“Ini menunjukkan pola yang sama. Bahwa ketika jurnalis mencari informasi untuk publik, selalu ada pihak yang merasa informasi itu terlalu berbahaya untuk diketahui,” ujarnya.

Nany menyebut kondisi jurnalis saat ini bagaikan perisai terakhir yang dimiliki publik dalam demokrasi.

“Dan ketika demokrasi mulai terbakar, jurnalis menjadi pihak yang pertama merasakan panasnya,” tegasnya.

Ia melanjutkan, ketika kekuasaan tidak suka dikritik, jurnalis menjadi pihak pertama yang ditekan. Ketika informasi ditutup, jurnalis menjadi pihak pertama yang dihalangi.

“Ketika kebijakan publik bermasalah, jurnalis yang pertama diminta untuk berhenti bertanya,” katanya.

Nany menambahkan, ketika terjadi konflik kepentingan, upaya jurnalis mencari data dan dokumen kerap dianggap masalah.

“Padahal jurnalis bukan sumber masalah, jurnalis adalah orang yang memperlihatkan masalah,” ujarnya.

Selain kekerasan, AJI mencatat 549 kasus pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap jurnalis sepanjang 2025, meningkat dari 370 kasus pada 2024.

“Tahun ini akan lebih banyak lagi, karena secara total lebih dari 1000 jurnalis sudah di-PHK,” kata Nany.

Nany mengingatkan seluruh anggota AJI agar tidak membiarkan tekanan yang terjadi saat ini meruntuhkan keyakinan terhadap profesi jurnalis.

“Kita tidak perlu menjadi jurnalis yang sempurna, tapi kita harus menjadi jurnalis yang selalu mempertahankan prinsip,” pesannya.

Ia menegaskan, martabat jurnalis ditentukan oleh keberanian untuk tetap bekerja secara independen.

Menurutnya, kebebasan pers bukan hadiah bagi jurnalis, melainkan hak publik, sementara jurnalis hanya mengemban mandat untuk menjaganya.

Negara, kata dia, wajib menjamin ruang tersebut tetap terjaga.

“Kita harus mengingatkan pemerintah, jurnalis bukan musuh negara. Jurnalis bukanlah makar,” tegasnya.

Nany menutup pidatonya dengan menegaskan bahwa kritik bukan hal yang berat, pertanyaan bukan penghinaan, investigasi bukan provokasi, dan berita yang tidak menyenangkan pemerintah bukan berarti berita itu salah.

“Sebagai perisai terakhir demokrasi, itu adalah jurnalis,” pungkasnya.(*)

About The Author

Penulis : Wandi

Follow WhatsApp Channel www.zonamu.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Zona Terkait

Sempena Peringatan Sumpah Pemuda ke-98, Ratusan Peserta dari Berbagai Organisasi dan Paguyuban Ikuti Seminar Kebangsaan
Wabup Novrizal Apresiasi 11 Cabor Lingga yang Mandiri di Porprov Kepri
Wabup Lingga Lepas Kontingen Cabor Porprov VI Kepri
Kajati Kepri Apresiasi Kinerja Kejari Lingga
Menapak Jejak Sejarah Melayu, Kajati Kepri Ziarah ke Lingga
Forum Bandara Sehat Dibentuk, Karimun Bidik Bandara Ramah Lingkungan
Kajati Kepri Kunjungan Kerja ke Kejari Lingga
Enam Bulan Merawat, Disperindagkop Lingga Panen 134 Kg Pepaya California

Zona Terkait

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 16:39 WIB

Sempena Peringatan Sumpah Pemuda ke-98, Ratusan Peserta dari Berbagai Organisasi dan Paguyuban Ikuti Seminar Kebangsaan

Jumat, 30 Oktober 2026 - 18:11 WIB

Wabup Novrizal Apresiasi 11 Cabor Lingga yang Mandiri di Porprov Kepri

Jumat, 30 Oktober 2026 - 17:50 WIB

Wabup Lingga Lepas Kontingen Cabor Porprov VI Kepri

Jumat, 30 Oktober 2026 - 13:12 WIB

Kajati Kepri Apresiasi Kinerja Kejari Lingga

Jumat, 30 Oktober 2026 - 10:45 WIB

Menapak Jejak Sejarah Melayu, Kajati Kepri Ziarah ke Lingga

Zona Terkini

Wabup Lingga Lepas Kontingen Cabor Porprov VI Kepri | Foto : Wandi

TERKINI

Wabup Lingga Lepas Kontingen Cabor Porprov VI Kepri

Jumat, 30 Okt 2026 - 17:50 WIB

Kajati Kepri saat bersalaman dengan para pegawai Kejari Lingga | Foto : Prokopim Lingga

TERKINI

Kajati Kepri Apresiasi Kinerja Kejari Lingga

Jumat, 30 Okt 2026 - 13:12 WIB

Kajati Kepri saat mengunjungi Makam Sultan Mahmud Riayat Syah di Daik Lingga | Foto : Diskominfo Lingga

TERKINI

Menapak Jejak Sejarah Melayu, Kajati Kepri Ziarah ke Lingga

Jumat, 30 Okt 2026 - 10:45 WIB