Lingga, Zonamu.com – Tidak semua atlet berangkat menuju arena pertandingan dengan dukungan fasilitas dan anggaran yang memadai. Sebagian harus mengandalkan kemampuan sendiri, mengumpulkan biaya, dan mengatur segala kebutuhan agar tetap bisa tampil membawa nama daerah.
Situasi itu dialami atlet Jujitsu, Savate, dan Forki Kabupaten Lingga yang bertolak menuju Kota Tanjungpinang untuk mengikuti Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) VI Kepulauan Riau (Kepri) 2026.
Pelabuhan Jagoh, Dabo Singkep, menjadi titik awal perjuangan mereka. Bersama para pendamping, rombongan menyeberangi laut dengan satu tujuan, membuktikan kemampuan sekaligus mengharumkan nama Kabupaten Lingga di ajang olahraga tingkat provinsi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun, di balik keberangkatan tersebut, ada cerita yang tidak hanya berbicara tentang persiapan pertandingan. Ketiga cabang olahraga ini termasuk dalam 11 cabor Lingga yang mengikuti Porprov VI Kepri menggunakan dana mandiri, tanpa pembiayaan dari KONI Kabupaten Lingga.
Artinya, kebutuhan keberangkatan hingga keikutsertaan dalam pertandingan harus diupayakan secara mandiri oleh masing-masing pengurus dan atlet.
Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi cabang olahraga yang harus mempersiapkan atlet sekaligus memenuhi kebutuhan operasional selama kompetisi.
Ketua Pengurus Besar Jujitsu Indonesia (PBJI) Kabupaten Lingga, Vatawari, mengatakan pihaknya tetap optimistis para atlet dari Jujitsu, Savate, dan Forki mampu memberikan hasil terbaik.
“Hari ini kita berangkat bersama-sama. Kita optimistis bisa memberikan yang terbaik dan mengharumkan nama Kabupaten Lingga. Insyaallah, seluruh atlet akan berjuang semaksimal mungkin untuk daerah yang kita cintai ini,” kata Vatawari, Kamis 5 November 2026.
Khusus Jujitsu, sebanyak lima atlet disiapkan untuk bertanding di kelas berbeda. Sementara atlet Savate dan Forki juga membawa kesiapan masing-masing untuk bersaing dengan peserta dari kabupaten dan kota lainnya di Kepri.
Medali Bukan Satu-satunya Ukuran Perjuangan
Keikutsertaan dengan biaya mandiri bukan berarti para atlet kehilangan ambisi untuk berprestasi. Sebaliknya, kesempatan tampil di Porprov menjadi ruang untuk membuktikan hasil latihan, kemampuan, dan keseriusan mereka dalam mengembangkan olahraga di Kabupaten Lingga.
Di tengah keterbatasan dukungan anggaran, ada pengurus yang berupaya memastikan atlet tetap berangkat. Ada atlet yang harus mengesampingkan persoalan biaya demi kesempatan bertanding. Pengorbanan semacam ini mungkin tidak terlihat ketika pertandingan berlangsung, tetapi menjadi bagian penting dari perjalanan mereka menuju arena.
Kondisi tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa pembinaan olahraga tidak cukup hanya mengandalkan semangat atlet. Dukungan anggaran, fasilitas latihan, pembinaan berkelanjutan, serta perhatian terhadap kebutuhan atlet menjadi bagian penting untuk menjaga prestasi daerah.
Sebab, atlet yang diminta berjuang membawa nama daerah juga membutuhkan dukungan yang sepadan. Prestasi tidak lahir hanya dari keberanian bertanding, tetapi juga dari proses pembinaan dan kesiapan yang dibangun jauh sebelum kompetisi dimulai.
Kini, Jujitsu, Savate, dan Forki Lingga telah membawa harapan itu ke Tanjungpinang. Mereka mungkin tidak berangkat dengan dukungan anggaran yang besar, tetapi tetap memiliki tekad untuk memberikan hasil terbaik.
Pada akhirnya, perjuangan mereka bukan hanya tentang berapa banyak medali yang bisa dibawa pulang. Lebih dari itu, ada pesan bahwa keterbatasan tidak seharusnya menjadi penghalang bagi atlet untuk berkembang dan mengharumkan daerah.
Mereka berangkat dengan dana mandiri, tetapi bertanding membawa nama Kabupaten Lingga.(*)
About The Author
Penulis : Wandi















