Napak Tilas Pulau Penyengat Menghidupkan Jejak Intelektual Melayu

- Penulis

Senin, 21 September 2026 - 10:43 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Napak Tilas Pulau Penyengat Menghidupkan Jejak Intelektual Melayu | Foto : Zonamu/Wandi

Napak Tilas Pulau Penyengat Menghidupkan Jejak Intelektual Melayu | Foto : Zonamu/Wandi

Tanjungpinang, Zonamu.com – Pulau Penyengat menjadi ruang bagi para peserta Festival Media (Fesmed) Selat Malaka 2026 untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia jurnalistik dan menengok kembali jejak intelektual Melayu.

Pada hari ketiga, Senin 21 September 2026, para delegasi AJI dari berbagai daerah menyusuri sejumlah situs sejarah sebelum mengikuti sarasehan di Gedung Lembaga Adat Melayu (LAM) Provinsi Kepulauan Riau.

Napak tilas tersebut membawa peserta ke Masjid Raya Sultan Riau, Gedung Tabib, serta kompleks makam Engku Puteri Raja Hamidah dan Raja Ali Haji. Di tempat-tempat itu, sejarah tidak hanya hadir sebagai catatan masa lalu, tetapi juga sebagai pengetahuan yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Masjid Raya Sultan Riau menjadi salah satu titik awal perjalanan. Dari kawasan tersebut, peserta mendapatkan penjelasan mengenai sejarah Pulau Penyengat serta tokoh-tokoh yang berperan dalam perkembangan kebudayaan dan intelektual Melayu.

Napak Tilas Pulau Penyengat Menghidupkan Jejak Intelektual Melayu | Foto : Zonamu/Ist

Ketua Bidang Pendidikan, Etik, dan Profesi Pengurus Nasional AJI Indonesia, Sunu Diantoro, mengaku mendapatkan pengalaman berbeda setelah melihat langsung tempat yang selama ini hanya dikenalnya melalui buku.

Ia selama ini mengenal Raja Ali Haji sebagai sastrawan Melayu melalui karya Gurindam Dua Belas yang dipelajari sejak sekolah hingga perguruan tinggi.

“Hari ini saya membuktikan apa yang selama ini diajarkan oleh para guru di Jawa sana dan juga apa yang saya baca dari banyak buku-buku tentang Raja Ali Haji sebagai seorang sastrawan yang mengarang kitab Gurindam 12 itu,” kata Sunu.

Menurut Sunu, kunjungan tersebut memberinya kesempatan menyaksikan langsung lingkungan yang berkaitan dengan sejarah Raja Ali Haji dan karya Gurindam Dua Belas.

“Selama ini kami tidak pernah tahu seperti apa sih lokasi tempat bikin kitab Gurindam 12 itu. Dan saya hari ini menyaksikan itu,” ujarnya.

Ia juga mengapresiasi kondisi sejumlah situs yang dinilainya cukup terawat, termasuk kompleks makam Engku Puteri Raja Hamidah dan Raja Ali Haji. Sunu menilai penjelasan pemandu, Raja Fahrul, juga memberi pelajaran penting karena informasi dibedakan antara yang memiliki rujukan dan hal-hal yang masih membutuhkan konfirmasi.

“Kalau ada sesuatu yang sifatnya dia pernah baca, dia akan kutip itu bukunya. Tapi kalau ada sesuatu yang sifatnya dia belum jelas, dia akan katakan bahwa ini perlu dikonfirmasi lagi,” kata Sunu.

Bagi Sunu, sikap tersebut sejalan dengan prinsip kerja jurnalistik yang menempatkan ketelitian dan verifikasi sebagai bagian penting dalam menyampaikan informasi. Ia juga melihat pesan dalam Gurindam Dua Belas masih relevan, terutama mengenai hubungan manusia dengan Tuhan serta hubungan antarmanusia.

Karya tersebut, menurutnya, menunjukkan bahwa sastra dapat melampaui zaman dan tetap menyimpan nilai kebijaksanaan serta keadilan. Sunu bahkan melihat peluang agar warisan sejarah dan intelektual Pulau Penyengat suatu saat dapat didorong menjadi bagian dari warisan dunia yang didaftarkan ke UNESCO.

“Sangat worth it. Sangat worth it. Ini kunjungan sangat worth it,” katanya ketika menggambarkan pengalamannya mengikuti napak tilas tersebut.

Tradisi Makan Berhidang

Setelah menyusuri jejak sejarah, para delegasi AJI diperkenalkan dengan tradisi makan berhidang sebagai bagian dari santap siang sebelum mengikuti sarasehan. Ketua LAM Kepri, Raja Al Hafiz, menjelaskan tradisi tersebut sebagai salah satu tata cara makan dalam adat Melayu yang dilakukan secara bersama.

“Ini adalah satu adat istiadat, tata cara orang Melayu makannya. Makannya adalah makan berhidang, satu hidangan untuk empat orang,” kata Raja Al Hafiz.

Tradisi tersebut tidak hanya dikenal dalam keseharian, tetapi juga digunakan dalam kegiatan keluarga, acara resmi hingga pernikahan. Dalam satu hidangan, lauk disusun dengan tata cara tertentu agar setiap orang mendapatkan bagian masing-masing.

Para peserta kemudian menikmati sejumlah hidangan khas Melayu Kepulauan Riau, di antaranya nasi minyak, korma, darca, pacri, gulai dan acar berempah. Makan bersama itu menjadi bagian lain dari perjalanan Fesmed yang mempertemukan dunia jurnalistik dengan sejarah dan kebudayaan Melayu.

Dari Pulau Penyengat, pesan yang dibawa bukan sekadar tentang bangunan tua, makam tokoh atau karya sastra yang pernah ditulis berabad-abad lalu. Ada pelajaran tentang bagaimana sebuah masyarakat menjaga ingatan, merawat pengetahuan, dan menyampaikan warisan kepada generasi berikutnya.

Napak tilas kemudian ditutup dengan sarasehan sebagai salah satu agenda utama sekaligus puncak Fesmed Selat Malaka 2026 di Tanjungpinang. Rangkaian kegiatan tersebut turut didukung AJI Tanjungpinang, AJI Batam, Bintan Resort Cakrawala (BRC), Abu Dafi, Rimpang, serta Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Provinsi Kepri.(*)

About The Author

Penulis : Wandi

Follow WhatsApp Channel www.zonamu.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Zona Terkait

Dua Talenta Lingga Bawa Nama Indonesia ke Malaysia
Ketika Kritik Dibungkam, Kebenaran Perlahan Kehilangan Suara Rakyat
Rutan Karimun dan Kemenag Rangkul Warga Binaan Lewat Agama
Pemkab Lingga Mulai Bangun Fondasi Pendidikan Anak
Di Balik Ilusi Tembakau, Rokok Dijual Seolah Menawan
Fesmed Selat Malaka 2026 Berakhir
Di Ujung Selat, Jurnalisme Diuji oleh Zaman
Fesmed Selat Malaka 2026: Jurnalis Didorong Kuasai OSINT
Berita ini 11 kali dibaca

Zona Terkait

Kamis, 24 September 2026 - 21:41 WIB

Dua Talenta Lingga Bawa Nama Indonesia ke Malaysia

Kamis, 24 September 2026 - 20:09 WIB

Ketika Kritik Dibungkam, Kebenaran Perlahan Kehilangan Suara Rakyat

Rabu, 23 September 2026 - 16:19 WIB

Rutan Karimun dan Kemenag Rangkul Warga Binaan Lewat Agama

Rabu, 23 September 2026 - 07:23 WIB

Pemkab Lingga Mulai Bangun Fondasi Pendidikan Anak

Selasa, 22 September 2026 - 11:10 WIB

Di Balik Ilusi Tembakau, Rokok Dijual Seolah Menawan

Zona Terkini

Dua Talenta Lingga Bawa Nama Indonesia ke Malaysia | Foto : Zonamu/ist

TERKINI

Dua Talenta Lingga Bawa Nama Indonesia ke Malaysia

Kamis, 24 Sep 2026 - 21:41 WIB

Kepala Rutan Kelas IIB Tanjungbalai Karimun, Yoga Hadhi Wijaya menerima kunjungan perwakilan Kantor Kemenag Kabupaten Karimun | Foto: Zonamu/Humas Rutan

TERKINI

Rutan Karimun dan Kemenag Rangkul Warga Binaan Lewat Agama

Rabu, 23 Sep 2026 - 16:19 WIB

Pemkab Lingga Mulai Bangun Fondasi Pendidikan Anak | Foto : Zonamu/Ist

TERKINI

Pemkab Lingga Mulai Bangun Fondasi Pendidikan Anak

Rabu, 23 Sep 2026 - 07:23 WIB

Di Balik Ilusi Tembakau, Rokok Dijual Seolah Menawan | Foto : Zonamu/Wandi

TERKINI

Di Balik Ilusi Tembakau, Rokok Dijual Seolah Menawan

Selasa, 22 Sep 2026 - 11:10 WIB