Batam, Zonamu.com – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) menyoroti kompleksnya tantangan jurnalis yang bekerja di wilayah kepulauan dan perbatasan.
Persoalan tersebut mengemuka dalam pembukaan Festival Media Selat Malaka 2026 di Politeknik Negeri Batam, Sabtu 19 September 2026.
Festival yang digelar AJI Indonesia bersama AJI Batam dan AJI Tanjungpinang mengangkat tema “Kemerdekaan Pers dan Keadilan HAM di Asia Tenggara.”
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kegiatan ini mempertemukan jurnalis, akademisi, aktivis, mahasiswa dan organisasi masyarakat sipil dari berbagai daerah.
Ketua Festival Media Selat Malaka 2026, Adam Zulfikar, mengatakan festival menjadi ruang untuk membahas kondisi media dan jurnalisme di kawasan kepulauan dan perbatasan. Menurutnya, ruang diskusi dan pertukaran perspektif perlu terus diperluas.
“Ruang untuk berdiskusi, bertukar perspektif, dan membicarakan berbagai persoalan justru mesti terus diperbanyak,” kata Adam.
Menurut Adam, tantangan jurnalisme tidak hanya terjadi di Indonesia. Persoalan serupa juga dihadapi media dan jurnalis di berbagai negara Asia Tenggara.
“Selat Malaka bukan sekadar batas geografis, tetapi ruang yang mempertemukan kepentingan lintas negara. Isu media, jurnalisme, demokrasi dan masyarakat sipil dinilai perlu dibahas melalui perspektif kawasan,” jelasnya.
Festival Media Selat Malaka 2026 digelar di Batam dan Tanjungpinang dengan puluhan agenda. Rangkaian kegiatan meliputi seminar, lokakarya, pelatihan jurnalistik, diskusi, pameran foto dan pertunjukan seni lokal.
Ketua Umum AJI Indonesia, Nanni Afrida, mengatakan pemilihan Batam dan Tanjungpinang berkaitan dengan karakter Indonesia sebagai negara kepulauan. Ia mempertanyakan apakah suara masyarakat dari seluruh pulau telah memperoleh ruang yang setara dalam praktik jurnalistik.
“Indonesia itu negara kepulauan. Semua pulau ini penting. Namun, pertanyaannya, apakah seluruh suara dari pulau-pulau itu telah mendapatkan ruang yang setara dalam jurnalisme kita?” kata Nanni.
Nanni menyebut jurnalis di wilayah kepulauan menghadapi kendala geografis, biaya transportasi, keterbatasan jaringan komunikasi dan minimnya sumber daya redaksi.
“Akses terhadap informasi dan narasumber juga menjadi tantangan yang membuat proses peliputan di sejumlah daerah membutuhkan waktu lebih panjang,” ujarnya.
Karena itu, Nanni menegaskan Festival Media Selat Malaka bukan sekadar agenda berkumpulnya jurnalis. Forum tersebut menjadi ruang untuk memperkuat pemahaman tentang pentingnya jurnalisme bagi masyarakat dan demokrasi.
“Festival media ini bukan sekadar festival media biasa, bukan sekadar ajang kumpul-kumpul, melainkan kesempatan bagi kita semua untuk belajar mengapa jurnalisme itu sangat penting,” jelasnya.
Menurut Nanni, jurnalisme berperan membantu masyarakat memahami persoalan, mengawasi kekuasaan dan memperjuangkan hak atas informasi.
“Media juga perlu memberi ruang kepada kelompok yang selama ini kurang terdengar, termasuk nelayan, masyarakat adat, perempuan, pekerja migran dan kelompok minoritas,” tuturnya.
Di sisi lain, Nanni menekankan pentingnya perlindungan terhadap jurnalis dalam menjalankan tugas. Jurnalis harus memiliki kebebasan, akses informasi, perlindungan dari ancaman serta hak ketenagakerjaan yang layak.
“Jurnalis harus bebas dari intimidasi, memiliki akses terhadap informasi, mendapatkan pelindungan ketika menghadapi ancaman, serta memperoleh hak-hak ketenagakerjaan yang layak,” ujarnya.(*)
About The Author
Penulis : Wandi















