Batam, Zonamu.com – Rokok tidak selalu datang dengan wajah yang menakutkan. Di balik kemasan yang rapi, warna yang menarik dan desain yang dibuat cantik, tersimpan ilusi yang perlahan mendorong orang untuk mengenal, mencoba, lalu terus mengonsumsinya.
Gambaran tersebut mengemuka dalam pemutaran dan diskusi film Di Balik Ilusi Tembakau dalam rangkaian Festival Media (Fesmed) Selat Malaka 2026.
Film dan diskusi itu membongkar bagaimana rokok dapat dikemas sedemikian rupa sehingga produk yang memiliki risiko kesehatan justru terlihat menarik di mata konsumen.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Anggota AJI Jakarta, Novita Sari Simamora, menyoroti cara rokok dipasarkan di Indonesia yang menurutnya berbeda dengan sejumlah negara lain.
Di Indonesia, rokok relatif mudah terlihat dan dijumpai di berbagai tempat, sementara di luar negeri penjualannya menerapkan pembatasan yang lebih ketat.
“Di sana mereka menjual harus memperlihatkan KTP atau tanda pengenal lainnya,” ujar Novita, belum lama ini.
Menurut Novita, persoalan tersebut menjadi penting karena jumlah perokok masih menunjukkan angka yang besar. Data survei yang disampaikan dalam diskusi menunjukkan jumlah perokok mencapai sekitar 5,9 juta orang.
“Sehingga menjadi gambaran bahwa persoalan rokok bukan sekadar pilihan individu, tetapi juga berkaitan dengan kesehatan masyarakat,” katanya.
Di sisi lain, Dinas Kesehatan Kota Batam menyoroti cara nikotin memengaruhi tubuh dan otak manusia. Nikotin dalam rokok dapat merangsang hormon tertentu, termasuk dopamin, yang berkaitan dengan rasa nyaman atau menyenangkan ketika rangsangan tersebut terjadi berulang.
Efek itu kemudian dapat membentuk ilusi bahwa rokok memberikan ketenangan, kenyamanan atau keberanian. Padahal, tubuh sedang merespons zat yang masuk dan memberikan rangsangan terhadap sistem saraf.
Rangsangan tersebut juga berkaitan dengan adrenalin yang membuat tubuh berada dalam kondisi lebih waspada. Efeknya dapat menyerupai kondisi ketika seseorang menghadapi situasi penuh tekanan atau bahkan seperti sedang bersiap menghadapi perkelahian.
Masalahnya, rasa nyaman yang muncul tidak berhenti pada pengalaman sesaat. Ketika tubuh terus mendapatkan rangsangan nikotin, kebiasaan merokok dapat semakin sulit dilepaskan dan pada saat yang sama risiko gangguan kesehatan terus membayangi.
Salah satu risiko serius yang disoroti adalah penyakit jantung. Karena itu, Di Balik Ilusi Tembakau tidak sekadar mengajak penonton melihat rokok sebagai sebuah produk, tetapi membongkar cara sebuah produk dapat membangun citra yang jauh lebih indah daripada dampak yang mengikutinya.
Pada akhirnya, kemasan hanyalah tampilan luar. Di balik warna, desain dan strategi pemasaran, terdapat zat yang memengaruhi tubuh serta risiko kesehatan yang tidak ikut ditampilkan dalam etalase.(*)
About The Author
Penulis : Wandi















