Batam, Zonamu.com – Di tepian Selat Malaka, tempat laut memisahkan sekaligus mempertemukan banyak pulau dan bangsa, para jurnalis berkumpul membawa satu kegelisahan yang sama bagaimana menjaga jurnalisme tetap tajam ketika zaman bergerak semakin cepat.
Kegelisahan itu mengemuka dalam Festival Media Selat Malaka 2026 di Batam dan Tanjungpinang. Mengangkat tema “Kemerdekaan Pers dan Keadilan HAM di Asia Tenggara”, festival ini menjadi ruang perjumpaan jurnalis, akademisi, aktivis, mahasiswa, dan masyarakat sipil untuk membicarakan wajah pers di kawasan kepulauan dan perbatasan.
Di wilayah seperti Kepulauan Riau, laut bukan tentang bentang alam. Ia menjadi jarak yang harus ditempuh untuk mencari sumber berita, menemui narasumber, mengejar fakta, dan membawa suara masyarakat ke ruang publik.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketua Festival Media Selat Malaka 2026, Adam Zulfikar, mengatakan tantangan jurnalisme tidak berhenti pada batas negara. Persoalan serupa juga dihadapi jurnalis di berbagai kawasan Asia Tenggara yang hidup dalam ruang geografis dan sosial yang saling terhubung.
“Ruang untuk berdiskusi, bertukar perspektif, dan membicarakan berbagai persoalan justru mesti terus diperbanyak,” kata Adam.
Bagi Adam, Selat Malaka bukan hanya garis yang memisahkan wilayah. Selat ini juga menjadi ruang pertemuan berbagai kepentingan, termasuk media, jurnalisme, demokrasi, dan masyarakat sipil.
Di tengah bentangan laut itu, pertanyaan tentang siapa yang didengar menjadi semakin penting. Ketua Umum AJI Indonesia Nanni Afrida mempertanyakan apakah suara dari pulau-pulau telah mendapatkan ruang yang setara dalam jurnalisme.
“Indonesia itu negara kepulauan. Semua pulau ini penting,” kata Nanni.
Jurnalis di wilayah kepulauan menghadapi persoalan yang tidak selalu terlihat dari pusat-pusat kota. Jarak geografis, ongkos transportasi, keterbatasan jaringan komunikasi, minimnya sumber daya redaksi, hingga sulitnya akses kepada informasi dan narasumber membuat sebuah liputan terkadang membutuhkan waktu lebih panjang.
Namun, justru di tempat-tempat yang jauh dari pusat perhatian itulah jurnalisme menemukan alasan terpentingnya. Nelayan, masyarakat adat, perempuan, pekerja migran, kelompok minoritas, dan masyarakat di pulau-pulau kecil membutuhkan ruang agar pengalaman mereka tidak hilang ditelan jarak.
“Festival media ini bukan hanya festival media biasa, bukan hanya ajang kumpul-kumpul, melainkan kesempatan bagi kita semua untuk belajar mengapa jurnalisme itu sangat penting,” ujar Nanni.
Jurnalisme pada akhirnya bukan hanya tentang seberapa cepat sebuah berita diterbitkan. Ia juga tentang keberanian mencari fakta, kesediaan mendengar, dan ketekunan memastikan sebuah informasi tidak melukai kebenaran.
Tetapi zaman menghadirkan tantangan baru. Di ruang redaksi dan meja kerja jurnalis, kecerdasan buatan atau AI mulai menjadi bagian dari proses produksi informasi.
AI dapat membantu mencari ide, menyusun kerangka, merangkum bahan, membuat naskah, mengolah gambar, suara, video, hingga transkripsi. Pekerjaan yang dahulu membutuhkan waktu panjang kini dapat dilakukan dalam hitungan yang jauh lebih singkat.
Namun, kecepatan tidak selalu berjalan seiring dengan kebenaran.
Country Programme Manager International Media Support (IMS) untuk Indonesia, Eva Danayanti, mengingatkan bahwa pengguna AI harus memahami bukan hanya kecanggihannya, tetapi juga risiko di balik teknologi tersebut.
“Data apa yang kita berikan? Apakah aktivitas kita sedang direkam atau dipantau? Siapa yang memiliki atau dapat mengakses data tersebut?” kata Eva.
Pertanyaan itu menjadi penting karena AI dapat menghasilkan informasi yang terdengar begitu meyakinkan, tetapi ternyata tidak memiliki dasar fakta. Nama, angka, kutipan, bahkan informasi yang seolah berasal dari wawancara dapat muncul tanpa sumber yang nyata.
Karena itu, satu prinsip tidak boleh ditinggalkan: verifikasi tetap berada di tangan manusia.
“AI dapat membantu mempercepat pekerjaan, tetapi tidak seharusnya menggantikan pertimbangan manusia,” tegas Eva.
Di tengah banjir informasi, jurnalis juga dituntut memiliki kemampuan membaca jejak digital. Open Source Intelligence atau OSINT menjadi salah satu cara untuk menelusuri informasi dari sumber-sumber yang tersedia secara terbuka.
Abdul Somad dari Jaringan.id sekaligus anggota Global Investigative Journalism Network (GIJN), memperkenalkan cara memanfaatkan data pemerintah, peta digital, citra satelit, media sosial, registrasi perusahaan hingga berbagai sumber digital lainnya.
“Semua data yang terbuka untuk diakses di internet oleh user, oleh kita, itu kategorinya open source,” kata Abdul.
Citra satelit, misalnya, dapat memberikan gambaran awal tentang perubahan sebuah kawasan sebelum jurnalis datang langsung ke lokasi. Jejak kepemilikan perusahaan juga dapat membantu melihat hubungan dan pola yang sebelumnya tersembunyi di balik data.
Namun OSINT bukanlah jalan pintas menuju kebenaran. Ia hanya alat untuk menemukan jejak, membaca pola, dan menentukan fakta mana yang masih harus diperiksa.
“Yang kita utamakan adalah melihat pola. Pola yang berulang, pola yang sistematis, pola yang terstruktur,” ujar Abdul.
Setiap pola tetap membutuhkan konfirmasi. Setiap data membutuhkan sumber. Dan setiap informasi yang hendak menjadi berita harus melewati proses pemeriksaan.
Di sisi lain, semakin canggih teknologi yang digunakan, semakin penting pula keselamatan orang yang berada di balik kerja jurnalistik. Ronna Nirmala dari IndonesiaLeaks mengingatkan bahwa keamanan jurnalis harus dipikirkan sejak liputan belum dimulai.
Keamanan tidak hanya menyangkut fisik. Aspek digital dan psikologis juga perlu masuk dalam perencanaan melalui asesmen risiko, pencadangan data, kehati-hatian menggunakan jaringan internet, serta sistem komunikasi internal selama liputan.
“Perencanaan liputan sudah mencakup penilaian risiko atau asesmen keamanan,” ujar Ronna.
Sebab, berita yang baik tidak lahir dari keberanian yang ceroboh. Ia lahir dari keberanian yang disertai persiapan.
Fesmed Selat Malaka 2026 akhirnya bukan sekadar pertemuan para jurnalis. Di Batam dan Tanjungpinang, festival itu mempertemukan masa lalu, keadaan hari ini, dan tantangan masa depan jurnalisme.
Ada laut yang menjadi jarak. Ada teknologi yang membuat dunia terasa tanpa batas. Ada AI yang mempercepat pekerjaan, OSINT yang membuka jejak informasi, dan persoalan keamanan yang mengingatkan bahwa di balik setiap berita selalu ada manusia.
Di tengah semua perubahan itu, satu hal tetap tidak berubah jurnalisme membutuhkan manusia yang mau memeriksa sebelum percaya, mendengar sebelum menyimpulkan, dan berani berdiri di sisi fakta.
Sebab pada akhirnya, teknologi boleh semakin cepat bahkan informasi boleh semakin deras. Tetapi kebenaran tetap membutuhkan waktu, ketelitian, keberanian, dan tanggung jawab untuk menjaganya.(*)
About The Author
Penulis : Wandi















