ZONA NASIONAL

Ketika Kritik Dibungkam, Kebenaran Perlahan Kehilangan Suara Rakyat

Jurnalisme tidak pernah dilahirkan untuk menyenangkan penguasa. Ia lahir dari kebutuhan paling sederhana dalam sebuah demokrasi, memastikan rakyat tidak kehilangan kebenaran.

Namun, jalan menuju kebenaran tidak selalu terang. Ada masa ketika kritik mulai dianggap sebagai permusuhan, pertanyaan jurnalis diperlakukan sebagai ancaman, dan suara publik perlahan tenggelam di antara kepentingan kekuasaan, ekonomi, serta derasnya informasi yang belum tentu benar.

Di titik itulah jurnalisme diuji.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Bukan ketika semua orang menyukai apa yang ditulis, melainkan ketika sebuah fakta membuat seseorang tidak nyaman.

Ketua Umum Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, Nany Afrida, mengingatkan bahwa penyempitan ruang demokrasi sering kali tidak datang dengan suara keras. Ia dapat dimulai perlahan, ketika kritik dianggap sebagai kebencian dan pertanyaan dipandang sebagai ancaman.

“Kadang-kadang demokrasi menyempit perlahan dimulai ketika kritik dianggap sebagai permusuhan,” kata Nany.

Menurutnya, tekanan terhadap pers dapat muncul dalam berbagai bentuk. Aparat dapat menggunakan kekuasaan untuk membatasi pemberitaan, sementara media menghadapi pilihan sulit antara mempertahankan independensi atau menjaga keberlangsungan hidup.

Pada saat yang sama, informasi keliru dapat menyebar jauh lebih cepat daripada klarifikasi. Rakyat akhirnya dihadapkan pada pertanyaan yang semakin sulit, mana fakta, mana propaganda, mana informasi, dan mana kebohongan yang dikemas menggunakan bahasa resmi.

Dalam keadaan seperti itu, kata Nany, jurnalis justru harus bekerja lebih keras.

Bukan karena jurnalis selalu benar. Sebaliknya, karena jurnalis juga manusia yang dapat melakukan kesalahan, maka verifikasi menjadi kewajiban yang tidak bisa ditawar.

Setiap kata harus dipertanggung jawabkan. Setiap gambar harus diperiksa. Setiap judul harus dipikirkan dampaknya, dan setiap informasi yang disebarkan harus memiliki dasar yang jelas.

Di sanalah letak perbedaan antara kerja jurnalistik dengan konten kreaktor.

Jurnalis memiliki kekuatan untuk memengaruhi opini publik. Karena itu, kebebasan tidak pernah boleh dipisahkan dari tanggung jawab.

“Tetapi tanggung jawab itu juga tidak boleh dijadikan alasan untuk membungkam kritik,” pungkasnya.

Mengawasi pemerintah bukan berarti membenci negara. Membela hak rakyat bukan berarti mengkhianati bangsa.

Justru pemerintah memiliki kewajiban menyampaikan informasi yang benar kepada masyarakat.

Ketika pejabat publik memberikan informasi yang tidak akurat, ketika institusi negara membangun narasi yang menyesatkan, atau ketika fakta penting disembunyikan dari publik, dampaknya bukan hanya perdebatan di ruang pemberitaan.

Dampaknya bisa sampai kepada keluarga yang kehilangan rumah, masyarakat yang kehilangan tanah, dan warga yang kehilangan kesempatan memperoleh keadilan.

Karena itu, tugas jurnalis tidak berhenti pada mengutip pernyataan pejabat.

“Tugas berikutnya jauh lebih sulit bertanya, benarkah itu yang terjadi?,” ungkapnya.

Pertanyaan sederhana itu sering kali menjadi awal dari pekerjaan jurnalistik yang sebenarnya.

Jurnalis tidak boleh hanya menjadi pengeras suara kekuasaan. Jurnalis harus tetap menjadi pekerja informasi yang berpijak pada fakta, kepentingan publik, dan hak masyarakat untuk mengetahui.

Rempang dan Mereka yang Tak Boleh Hilang

Neny kemudian mengingatkan persoalan Rempang.

Rempang tidak semata-mata berbicara tentang investasi, pembangunan, atau angka pertumbuhan ekonomi. Di balik istilah-istilah besar itu terdapat manusia, keluarga, rumah, tanah, sejarah, dan kehidupan yang tidak selalu dapat dihitung menggunakan angka proyek.

Ketika konflik agraria terjadi. Ketika masyarakat menghadapi ancaman penggusuran atau relokasi. Ketika muncul pertanyaan mengenai hak warga, di situlah jurnalis memiliki tanggung jawab untuk hadir.

Hadir bukan untuk menghakimi sebelum fakta diperiksa.

Bukan pula untuk membangun kebencian.

Jurnalis hadir untuk memastikan suara masyarakat tidak hilang di tengah besarnya kepentingan ekonomi dan kekuasaan.

Sebab ketika jurnalis berhenti memberitakan persoalan rakyat hanya karena tekanan, yang hilang bukan sekadar satu berita.

Yang hilang adalah kesempatan publik untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

Dan mungkin, bagian paling menyedihkan dari kebebasan pers bukan ketika sebuah berita dilarang terbit.

Melainkan ketika seorang jurnalis mulai takut untuk bertanya.

Pers Bukan Alat Transaksi

Kebebasan pers merupakan salah satu pilar penting demokrasi. Namun, kebebasan itu hanya memiliki makna ketika dijalankan oleh pers yang bekerja secara profesional dan bertanggung jawab kepada masyarakat.

Jurnalis harus bekerja berdasarkan kode etik. Profesi ini tidak boleh dijadikan jalan untuk mencari keuntungan pribadi dengan mengorbankan kepentingan publik.

Karena itu, Nany juga menegaskan bahwa orang yang mengaku sebagai jurnalis lalu melakukan pemerasan dengan mengatasnamakan pers harus diproses sesuai hukum.

Perilaku semacam itu tidak boleh dibiarkan.

Sebab ketika seseorang menggunakan nama jurnalis untuk memeras, yang dirusak bukan hanya nama orang tersebut. Yang ikut dirusak adalah kepercayaan masyarakat kepada seluruh profesi jurnalistik.

Jurnalisme tidak boleh menjadi alat tawar-menawar.

Ancaman pemberitaan tidak boleh dijadikan transaksi. Berita tidak boleh ditahan karena imbalan, dan penderitaan masyarakat tidak boleh dijadikan komoditas untuk kepentingan pribadi.

Namun, membedakan jurnalis profesional dari mereka yang menyalahgunakan profesi juga tidak cukup hanya dengan klaim.

Perbedaannya harus terlihat dari kerja nyata.

Melalui standar etik yang jelas. Melalui mekanisme pengaduan yang terbuka. Melalui keberanian mengakui kesalahan dan memperbaikinya. Dan, ketika terjadi pelanggaran profesional, melalui keberanian untuk menindak.

Jangan meminta masyarakat percaya hanya karena seseorang menyebut dirinya jurnalis.

Biarkan masyarakat percaya karena mereka melihat bagaimana jurnalis itu bekerja.

Ketika Angka Bukan Lagi Ukuran

Di tengah dunia media yang semakin bising, ukuran keberhasilan jurnalistik juga sering bergeser.

Jumlah tayangan menjadi angka yang dikejar. Judul semakin keras demi perhatian. Kedekatan dengan kekuasaan kadang dianggap sebagai prestasi, sementara keberanian diukur dari seberapa lantang seseorang berbicara.

Padahal, tidak semua yang ramai berarti penting.

Tidak semua yang viral berarti benar.

Dan tidak semua yang dekat dengan kekuasaan berarti sedang menjalankan kepentingan publik.

Nilai pekerjaan jurnalistik tidak semestinya hanya diukur dari jumlah tayangan. Keberanian tidak semata-mata diukur dari seberapa keras suara seseorang, dan keberhasilan tidak seharusnya diukur dari seberapa dekat seorang jurnalis dengan pusat kekuasaan.

Sebab pada akhirnya, jurnalisme adalah tentang tanggung jawab.

Tanggung jawab kepada mereka yang suaranya terlalu kecil untuk didengar. Kepada warga yang tidak memiliki panggung. Kepada keluarga yang mungkin tidak tahu bagaimana memperjuangkan haknya. Dan kepada masyarakat yang hanya memiliki satu harapan sederhana, mendapatkan informasi yang benar.

Mungkin itulah sebabnya jalan jurnalisme sering terasa sunyi.

Ada berita yang tidak menghasilkan banyak tayangan. Ada fakta yang tidak disukai banyak orang. Ada pertanyaan yang membuat pintu tertutup. Ada tulisan yang mungkin tidak mengubah keputusan penguasa.

Tetapi pekerjaan itu tetap harus dilakukan.

Karena demokrasi tidak hanya membutuhkan orang-orang yang berbicara.

Demokrasi membutuhkan orang-orang yang bersedia mencari tahu apakah yang dibicarakan itu benar.

Di tengah dunia yang semakin bising oleh kebohongan, mungkin masa depan demokrasi tidak hanya ditentukan oleh mereka yang memegang kekuasaan.

Ia juga ditentukan oleh orang-orang yang masih bersedia bekerja dalam sunyi, memeriksa fakta satu demi satu, bertanya meski tidak disukai, dan menulis meski tidak selalu mendapat tepuk tangan.

Sebab selama masih ada orang yang bersungguh-sungguh mencari kebenaran, harapan itu belum sepenuhnya hilang.

Dan selama jurnalisme masih berani berdiri di sisi fakta, rakyat belum benar-benar kehilangan suaranya.(*)

Saswandy

Recent Posts

Dua Talenta Lingga Bawa Nama Indonesia ke Malaysia

Lingga, Zonamu.com - Dua pelajar asal Kabupaten Lingga, Muhammad Dzaki Sukifli dan Muhammad Rafdi Yasmadi,…

9 jam ago

Rutan Karimun dan Kemenag Rangkul Warga Binaan Lewat Agama

Karimun, Zonamu.com - Menjalani masa pemidanaan di balik jeruji besi bukanlah akhir dari segalanya. Di…

2 hari ago

Pemkab Lingga Mulai Bangun Fondasi Pendidikan Anak

Lingga, Zonamu.com - Pemerintah Kabupaten Lingga mulai membangun fasilitas Kelompok Bermain (KB) Pelita Hati di…

2 hari ago

Di Balik Ilusi Tembakau, Rokok Dijual Seolah Menawan

Batam, Zonamu.com - Rokok tidak selalu datang dengan wajah yang menakutkan. Di balik kemasan yang…

3 hari ago

Fesmed Selat Malaka 2026 Berakhir

Tanjungpinang, Zonamu.com - Festival Media (Fesmed) Selat Malaka 2026 resmi ditutup di Kota Tanjungpinang setelah…

3 hari ago

Napak Tilas Pulau Penyengat Menghidupkan Jejak Intelektual Melayu

Tanjungpinang, Zonamu.com - Pulau Penyengat menjadi ruang bagi para peserta Festival Media (Fesmed) Selat Malaka…

4 hari ago